KARAKTER MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

MUHAMAD ANSORI (DOSEN STAI AL-QODIRI JEMBER)

KARAKTER MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

A.      Pendahuluan
1.      1. Latar Belakang
Al-qur’an merupakan firman Allah swt yang didalamnya memberikan tuntunan bagi manusia dalam berbagai aspek, salah satunya tentang pedoman dalam berperilaku agar manusia dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Sebagai pedoman hidup bagi umat Islam, al-qur’an perlu terus menerus dipelajari dan dikaji agar manusia khusunya sifat-sifat atau karakter manusia dalam Al-qur’an.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt tidak lepas dari sifat-sifat yang melekat pada dirinya baik sifat baik maupun buruk. Berdasarkan kecenderungan manusia kepada sifat-sifat yang dimiliki manusia terebut Allah swt menggolongkan manusia dalam dua golongan, yaitu mukmin atau kafir, sebagaimana ayat berikut:
هُوَٱلَّذِيخَلَقَكُمۡفَمِنكُمۡكَافِرٞوَمِنكُممُّؤۡمِنٞۚوَٱللَّهُبِمَاتَعۡمَلُونَبَصِيرٌ٢
Artinya: Dialah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.[1]

Berdasarkan ayat diatas, Allah membedakan manusia menjadi dua yaitu mukmin dan kafir dengan karakter masing-masing. Namun demikian manusia memiliki potensi dan kecenderungan kepada kebaikan sebagaimana hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةِ وَأَبَوَاهُ بَعْدُيُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ فَإِنْ كَانَا مُسْلِمَيْنِ فَمُسْلِمٌ كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ يَلْكُزُهُ الشَّيْطَانُ فِي حِضْنَيْهِ إِلَّا مَرْيَمَ وَابْنَهَا
Artinya: ...Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tunyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?"[2]
Berdasarkan hadits diatas disebutkan bahwa manusia pada dasarkan dalam kondisi yang suci, akan menjadi apa kedepannya adalah tergantung pada pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya.  Dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan bahwa manusia sesungguhnya berada pada fitrah agama yang lurus sebagaimana ayat berikut:
فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Fitrah Allah dalam ayat diatas memiliki makna ciptaan Allah, manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.Selain itu manusia juga merupakan makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya, sebagaimana ayat berikut:

۞وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ كَثِيرٖ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلٗا ٧٠

Artinya: 70. dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.[3]
Berdasarkan latar belakang inilah, upaya membangun karakter yang baik pada manusia sesuai dengan konsep dalam al-qur’an perlu dilakukan melalui adanya penerapan pendidikan karakter. Sebelum menerapkan pendidikan karakter, perlu terlebih dahulu dilakukan kajian dan pemahaman akan arti karakter, konsep manusia dalam al-qur’an, macam-macam karakter manusia dalam al-qur’an, landasan dan tujuan pendidikan karakter, tahap pembentukan karakter, serta metode yang tepat dalam pembentukan karakter.

2.      Fokus Pembahasan
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat difokuskan topik pembahasan pada makalah ini antara lain:
a.     Definisi Karakter
b.    Konsep Manusia dalam Al-Qur’an
c.     Karakter Manusia dalam Al-Qur’an
d.    Landasan dan Tujuan Pendidikan Karakter
e.     Tahapan dan Metode  Pendidikan Karakter

B.       Pembahasan
1.      Definisi Karakter
Kata karakter diambil dari bahasa Inggris character yang juga berasal dari bahasa Yunani Character.Secara umum istilah tersebut digunakan untuk mengartikan hal yang berbeda antara satu hal dengan yang lainnya, dan akhirnya juga digunakan untuk menyebut kesamaan kualitas pada tiap orang yang membedakan dengan kualitas lainnya.[4]
Sedangkan Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.
Menurut Simon Philips sebagaimana dikutip oleh Fatchul Mu’in karakter adalah sekumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan.[5]     Sedangkan menurut Abudin Nata, karakter atau akhlak adalah sifat yang melekat pada diri seseorang dan menjadi identitasnya.[6]
Secara terminologis, makna karakter dikemukakan oleh Thomas Lickona.Menurutnya karakter adalah “A reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way.”Selanjutnya Lickona menambahkan, “Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior”. Menurut Lickona karakter terbentuk dari hubungan tiga dimensi yang saling terkait, yaitu: pengetahuan, nilai, dan sesuatu tindakan yang benar[7].
Sedangkan Wiguna mendefinisikan karakter sebagai sifat-sifat kepribadian yang baik pada diri seseorang yang menyatu dalam jiwa dan mentalnya yang berkaitan dengan masalah sosial, moral, dan agama.[8]
Selanjutnya karakter merupakan internalisasi nilai-nilai agama dan moral pada diri seseorang ditandai dengan dan perilaku positif. Karena itu ia terkait dengan kalbu. Bias saja seseorang memiliki pengetahuan yang dalam tetapi tidak memiliki karakter terpuji, sebaliknya bias saja seseorang amat terbatas pengetahuannya namun karakternya amat terpuji.[9]
Dari semua penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sifat-sifat yang ada dalam diri seseorang yang berasal dari keyakinan seseorang yang diterima dari lingkungannya, yang mengarahkan fikiran, ucapan dan tindakan seseorang (budi pekerti) dalam berinteraksi dengan orang lain. Jadi kuatnya keimanan atau keyakinan seseorang atau suatu bangsalah yang menentukan terbentuknya sifat-sifat dalam diri manusia.
Selanjutnya makna dari  pendidikan karakter yaitu merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh para pendidik, bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki sifat terpuji sesuai dengan nilai-nilai agama dan moral.
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi untuk mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik, memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur, meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.

2.      Konsep Manusia dalam Al-Qur’an
Menurut Quraish Shihab ada tiga kata yang digunakan untuk menunjuk manusia dalam Al-Qur’an yaitu kata insan, basyar, dan Bani Adam.[10] Insān menurut Ibnu Manẓūr mempunyai tiga asal kata. Pertama berasal dari kata anasa yang berarti absara yaitu melihat, alima yang berarti mengetahui, dan isti’zān berarti minta izin. Kedua berasal dari nasiya yang berarti lupa. Ketiga berasal dari kata al-nūs yang berarti jinak lawan dari kata alwahsyah yang berati buas.[11]
Sedangkan kata al-Basyar disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk 'mutsanna' atau 'jama' untuk menunjuk manusia seluruhnya. Kata basyar memiliki makna manusia sebagai makhluk yang bersifat fisik, manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya.[12]
Kata al-Basyar terdiri dari huruf ba, syin dan ra ( بشر) secara bahasa berarti fisik manusia. Menurut al-Ragib al-Isfihānī basyar berarti nampak jelas kulitnya. Dalam kitab Mu‘jam Maqāyis al-Lugah menjelaskan bahwa semua kata yang huruf asalnya terdiri dari huruf ba syin dan ra berarti sesuatu yang nampak jelas dan biasanya cantik dan indah.[13]
Dengan demikian, kata basyar nampak pada bentuk fisik manusia yang secara umum memiliki persamaan dengan yang lainnya dan berkenaan dengan aktifitas sehari-hari. Abdul Majid menambahkan bahwa manusia melalui aktifitas basyariahnya akan melahirkan gagasan dan pemikiran dan dapat diwujudkan dalam bentuk kongkrit, yaitu bentuk-bentuk sebagai hasil karya dan cipta manusia.[14]
Selanjutnya kata Banī Ādam secara bahasa banī adalah bentuk jamak dari kata ibnun yangberarti anak. Bentuk dasarnya adalah banūn atau banīn tetapi karena beradapada posisi mudaf ( diterangkan) maka huruf waw dan nun pada kata banūntersebut harus dihilangkan, sehingga menjadi kata banī. Banī Ādam adalah anak keturunan Nabi Adam as. yang menghuni bumi. Banî Ādam menunjukkan kemuliaan keturunan Ādam sedang zurriyah Ādam adalah keturunan tentu adayang mulia ada yang tersesat. Istilah Banī Ādamdalam al-Qur’an disebutkansebanyak 7 kali dengan tujuh surah.[15]
Sedangkan Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah dari segumpal darah, yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan lingkungan.[16]
Berdasarka uraian tentang konsep manusia dalam al-qur’an diatas, dapat disimpulkan bahwa manusia dalam perspektif al-qur’an merupakan makhluk yang memiliki bentuk fisik sebagaimana makhluk lainnya dengan dilengkapi akal dan nafsu serta memiliki kecendrungan untuk menjadi makhluk yang dimuliakan oleh Allah swt.
3.      Karakter Manusia dalam Al-Qur’an
Secara garis besar terdapat tiga karakter manusia dalam al-qur’an, yaitu karakter mukmin, kafir, dan karakter munafik.[17] Golongan mukmin dan kafir terdapat dalam ayat berikut:
هُوَٱلَّذِيخَلَقَكُمۡفَمِنكُمۡكَافِرٞوَمِنكُممُّؤۡمِنٞۚوَٱللَّهُبِمَاتَعۡمَلُونَبَصِيرٌ٢
Artinya: Dialah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.[18]

Selain mukmin dan kafir ada golongan manusia yang berada diantara keduanya, namun justru golongan inilah yang paling berbahaya dikarenakan sifat kepura-puraannya yang menonjol. Golongan munafik  ini disebutkan dalam ayat berikut:
إِذۡ يَقُولُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ وَٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ غَرَّ هَٰٓؤُلَآءِ دِينُهُمۡۗ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ٤٩
Artinya Ingatlah, ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya". (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"[19]

Dari ketiga golongan manusia tersebut selanjutnya dapat dilihat karakter yang melekat pada mukmin, kafir dan munafik pada penjelasan dibawah ini:

a.    Karakter Orang Mukmin
Adapun karakter orang mukmin telah disebutkan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an surat Al-Mukminun dan Al-furqan berikut:
1)      Kusyuk dalam Shalat
قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ ٢
Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam sembahyangnya. [20]

2)      Meninggalkan Pekerjaan yang Tidak Bermanfaat
 وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ ٣
Artinya: dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.[21]

3)      Rendah Hati
وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا ٦٣
Artinya: Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. [22]

4)      Mau Membayar Zakat dan tidak Berlebihan (proporsional)

وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِلزَّكَوٰةِ فَٰعِلُونَ ٤
Artinya: dan orang-orang yang menunaikan zakat

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَكَانَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ قَوَامٗا ٦٧
Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian[23]

5)      Menjaga Kemaluan
  وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ٥ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ٦
Artinya: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.[24]

6)      Tidak Menyekutukan Allah, Tidak Membunuh Kecuali dengan Hak dan Tidak Berzina

وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ يَلۡقَ أَثَامٗا ٦٨
Artinya Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).[25]


7)      Memelihara Amanat dan Menepati Janji
وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِأَمَٰنَٰتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَٰعُونَ ٨
Artinya: Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya[26]

8)      Menjaga Shalat
وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمۡ يُحَافِظُونَ ٩
Artinya: dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya[27]
وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ٦٤
Artinya: Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. [28]

9)      Bertaubat dan Beramal Shaleh
وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابٗا ٧١
Artinya: Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya

10)  Tidak Memberi Kesaksian Palsu
وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ مَرُّواْ كِرَامٗا ٧٢
Artinya: Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.[29]

11)  Selalu Berdoa Memohon Perlindungan Kepada Allah
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤
Artinya: Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.[30]

Dari penjelasan dalam surat Al-Mukminun, Samiun Jazuli menyebutkan beberapa karakter orang mukmin antara lain: tenang,  lemah lembut, menghidupkan malam dengan memperbanyak shalat, berinfaq tepat pada sasarannya dan secara proporsional, tidak menyekutukan Allah, tidak mudah menghilangkan nyawa dan tidak berzina,  bertaubat dan mengerjakan amal shaleh, tidak memberikan persaksian palsu, tidak terpengaruh pada orang-orang yang mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat,  dan berdoa kepada Allah mengharapkan agar menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa.[31]
Sedangkan As-Sa’di menguraikan beberapa karakter mukmin antara lain: takut kepada Allah baik saat sendiri maupun berkumpul dengan orang lain,memenuhi semua perintah yang disampaikan kepada mereka, hatinya bergetar karena rasa patuh yang mendalam, hanya kepada Allah tempat mengembalikan berbagai persoalan, khusyu’ dalam setiap keadaan, terutama saat mendirikan shalat, menjauhi hal-hal yang sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kehormatan, menjaga manah, dan menepati janji.[32]
Selanjutnya Samiun Jazuli dalam bukunya menguraikan bahwa orang mukmin tersebut dikualifikasikan dalam instrument orang-orang yang akan memperoleh kemenangan.[33] Selain itu, Darwis Hude menambahkan salah satu karakter mukmin adalah cinta kepada Allah sebagai wujud cinta yang tertinggi, sehingga Allah akan membalasnya lebih dari apa yang dilakukannya.[34]Hal tersebut sesuai dengan hadits Nabi Muhammad saw berikut:
 عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْوِيهِ عَنْ ...
رَبِّهِ قَالَ إِذَا تَقَرَّبَ الْعَبْدُ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِذَا أَتَانِي مَشْيًا أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Artinya: …Dari Anas r.a, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang beliau riwayatkan dari Rabbnya (hadis qudsi), Allah berfirman: "Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari."[35]

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa karakter orang mukmin antara lain: kusyuk dalam sembahyang, menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat, menunaikan zakat, menjaga kemaluan, menjaga amanah, menepati janji, dan menjaga shalatnya, tidak menyekutukan Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah, tidak berzina, bertaubat dan beramal shaleh, selalu berdoa memohon perlindungan Allah, dan melaksanakan perintah Allah dengan ketaatan sepenuhnya.

b.    Karakter Orang Kafir
Kata Kafir dalam bahasa Arab berasal dari kata كافر  kāfara ; plural كفّار  kuffār  secara harfiah berarti orang yang menutupi, menolak sesuatu dengan yang lain atau menyembunyikan, mengingkari suatu kebenaran. Dalam istilah terminologi kultural kata ini digunakan dalam agama Islam merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat dari Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur).
Di dalam Al Qur’an, kitab suci agama Islam, kata dan sifat-sifat orang kafir dan variasinya dituliskan dalam beberapa ayat dalam Surah Al-Baqarah, antara lain:

1)      Tidak Mau Menerima Nasihat 

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” [36]
Ayat ini menyebutkan golongan orang kafir bahwa seolah tidak ada gunanya berdakwah terhadap orang-orang kafir. Karena kekafiran yang begitu mendalamlah sehingga membuat mereka tidak beriman. Di samping itu, Allah tidak memberikan hidayah kepadanya.
Tentang golongan kafir ini, Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar mengklasifikasikan menjadi tiga macam. Pertama, orang yang mengetahui kebenaran namun ia dengan sengaja mengingkarinya. Jumlah orang kafir inilah yang paling sedikit. Kedua, orang yang tidak mengetahui kebenaran, namun tidak ingin mengetahuinya dan tidak suka untuk mengetahuinya. Mereka bersikap masa bodoh dan tidak peduli dengan kebenaran. Ketiga, orang yang telah sakit jiwa dan hatinya. Ia tidak merasakan nikmatnya kebenaran. Tak ada ketertarikan di dalam hati mereka untuk menemukan kebenaran.
Menurut Ibnu Abbas, orang-orang kafir yang telah tertutup hati, telinga, dan mata mereka itu adalah orang-orang Yahudi, seperti Ka’ab bin al-Asyraf, Huyay bin Akhthab, dan Juday bin Akhthab. Namun ada juga yang berpendapat, mereka adalah orang-orang musyrik Mekkah, seperti Utbah, Syaibah, dan al-Walid.

2)      Berburuk Sangka terhadap Takdir Allah

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak segan-segan membuat perumpamaan nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?‏ ‏Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”.[37]

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia tidak keberatan untuk membuat perumpaan dengan seekor nyamuk dan seumpamanya, atau yang lebih kecil lagi. Justru kehebatan sebenarnya terletak pada satu perkara yang unik dan sulit dilakukan penelitian. Yakni tiadalah yang dapat memahami hikmah di balik setiap perumpamaan ayat-ayat Al-Quran melainkan orang-orang yang mendalami ilmu pengetahuan. Pastinya setiap perumpamaan itu perlu direnungi untuk di ambil pelajaran dan sangat berguna buat kehidupan.

3)      Menyebut-nyebut Pemberian dan Menyakiti Perasaan Penerima

بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”[38]

Di akhir ayat tersebut, Allah menyebut orang-orang kafir yang memiliki perilaku khusus seperti yang diterangkan pada kalimat sebelumnya. Walaupun ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman, namun mereka diingatkan untuk tidak memiliki sifat dan perilaku orang-orang kafir yang menyebut-nyebut pemberian serta menyakiti hati penerimanya.

c.    Karakter Orang Munafik
Munafik adalah merupakan salah satu penyakit yang merusak hati umat manusia. Karakter utama orang munafik adalah adanya ketidaksesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang ada didalam hati mereka, sebagaimana Ibrahim menjelaskan bahwa nifak secara bahasa berarti sikap yang berbeda antara lahir dan batin. Ia kemudian membagi munafik dalam dua macam yaitu nifak i’tiqadi (keyakinan) dan nifak ‘amali (perbuatan).[39]
 Beberapa karakter orang munafik dalam Al-qur’an dinyatakan dalam ayat-ayat berikut:
1)      Pendusta
إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ ١
Artinya: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. [40]

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨
Artinya: Diantara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.[41]

2)      Menghalangi Manusia dari Jalan Allah
ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٢
Artinya: Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.[42]

3)      Sombong dan Tidak Mau Beriman
وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ يَسۡتَغۡفِرۡ لَكُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ لَوَّوۡاْ رُءُوسَهُمۡ وَرَأَيۡتَهُمۡ يَصُدُّونَ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ٥
Artinya: Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri[43]

4)      Membuat Kerusakan
وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ ١٢
Artinya: Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan".  Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.[44]

5)      Menganggap Orang Beriman sebagai Orang yang Bodoh
وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُۗ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ ١٣
Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.[45]

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa karakter orang munafik dalam surat Al-Baqarah merupakan sifat-sifat yang banyak dimiliki oleh orang-orang di Madinah setelah nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Orang munafik yang dimaksud adalah para pembesar yang menyatakan diri sebagai Muslim tetapi sesungguhnya mereka tidak beriman.[46]
Sayyed Qutub menambahkan bahwa orang-orang munafik di Madinah adalah para pembesar yang berpura-pura menyatakan diri masuk Islam,  tetapi mereka tidak pernah melupakan kedudukan mereka yang merasa lebih tinggi kedudukannya dari pada masyarakat umum, sehingga bersifat sombong dan menganggap orang lain bodoh[47]
Selain ayat-ayat diatas, Ada sebuah hadits yang menyatakan sifat-sifat orang munafik sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا
حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya: …Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat."[48]

Berdasarkan ayat dan hadits diatas, dapat digaris bawahi bahwa karakter oranng-orang munafik antara lain: berdusta dengan mengaku beriman tetapi dalam harinya tetap ingkar kepada Allah, sombong dan tidak mau beriman, menganggap orang beriman sebagai orang-orang yang bodoh,  ingkar janji, dan tidak dapat dipercaya.

4.      Dasar Pendidikan Karakter
Setelah diketahui berbagai karakter manusia yang dijelaskan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an, pendidikan karakter menjadi sebuah keharusan dalam rangka mengarahkan manusia agar memiliki sifat-sifat yang baik sebagaimana karakter seorang mukmin.
Pendidikan karakter tersebut perlu dilakukan karena adanya perintah Allah untuk menyeru kepada kebaikan sebagaiman Allah menceritakan kisah Lukman ketika menasehati anaknya dalam ayat berikut:
يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧
Artinya: Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).[49]

Selain itu, Allah memperingatkan orang Mukmin agar menjaga diri dan keluarganya dari api neraka sebagaimana ayat berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[50]

Manusia perlu diingatkan dan diseru kepada kebaikan, karena dalam jiwanya ada kecendrungan kepada kebaikan, namun apabila tidak diarahkan manusia juga dapat tersesat kepada jalan yang salah, sesuai dengan jalan yang telah diilhamkan oleh Allah sebagaimana ayat berikut:
 وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ٧ فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨  قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠
Artinya: 7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). 8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 9. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. 10. dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.[51]

Berdasarkan ayat diatas, Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia memiliki kemerdekaan dan potensi serta peluang untuk cenderung kepada kebaikan dan menghindari keburukan tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Faktor terpenting dalam hal ini adalah bagaimana manusia mengendalikan kodrat fitrahnya yang suci, tabiat individualnya, serta daya responnya terhadap lingkungan sebelum melakukan suatu perbuatan.[52]
Selain itu, dalam surat lainnya Allah menyebutkan bahwa manusia diberi dua jalan kebaikan dan keburukan agar manusia bisa membedakan dan memilih jalan terbaik dalam hidupnya sebagaimana ayat berikut:

وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ١٠
Artinya: Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keburukan)[53]
Mengenai potensi baik dan buruk pada manusia, Quraish Shihab menyebutkan bahwa walaupun kedua potensi (baik dan buruk) ada pada manusia,  namun ditemukan isyarat dala al-qur’an bahwa kebaikan lebih dahulu menghiasi diri manusia dari pada kejahatan, dan manusia lebih cenderung kepada kebaikan. [54]
Dari kecenderunngan itulah maka pendidikan karakter perlu dilakukan untuk mengarahkan manusia menjadi karakter mukmin sebagaimana telah dijelaskan diatas, yang selanjutnya dapat membawa manusia kepada kemenangan di dunia dan akhirat.


5.      Tahapan Pendidikan Karakter
a.       Pendidikan Karakter Pra Konsepsi
Pendidikan ini adalah upaya persiapan pendidikan yang dilakukan oleh seseorang semenjak ia mulai memilih dan atau mencari jodoh sampai pada saat terjadinya pembuahan dalam rahim seorang ibu.  Dalam hal ini, perlu berbagai persiapan; yang pertama adalah memilih jodoh. Dalam memilih jodoh seseorang dianjurkan untuk memilih pasangan yang memungkinkan untuk diajak hidup berumah tangga, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an:
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ)

Artinya: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.[55]
Ayat di atas memerintahkan agar seorang muslim jangan memilih istri wanita yang musyrik dan sebaliknya, karena itu akan membawa dampak di kemudian hari yang berkenaan dengan pendidikan anaknya. Selain ayat diatas, ada sebuah hadits Nabi yang memberikan beberapa kriteria yang dapat dijadikan acuan dalam memilih calon ibu bagi anak-anaknya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعٍ لِلدِّينِ وَالْجَمَالِ وَالْمَالِ وَالْحَسَبِ فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ مُسْهِرٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْحَدِيثِ
Artinya: Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Wanita dinikahi karena empat hal, yaitu; karena agamanya, kecantikannya, hartanya dan keturunannya. Maka carilah yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung." Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Uyainah dari Ali bin Mushir dari Abdul Malik dari 'Atha` dari Jabir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan hadits ini.[56]
Dari hadits di atas dapat dipahami, bahwa dalam mencari jodoh seseorang itu hendaklah selektif, baik itu laki-laki maupun perempuan, karena semua itu menentukan pendidikan anak dimasa yang akan datang.
b.    Tahap Pendidikan Pra-natal
Pendidikan pre-natal adalah upaya persiapan pendidikan yang dilakukan oleh kedua orang tua pada saat anak masih dalam kandungan sang ibu.  Dalam al-Qur’an terdapat berbagai interaksi yang menunjukkan pendidikan pre-natal, yaitu pendidikan yang dilakukan oleh Hannah terhadap Maryam dan Zakariya terhadap Yahya.
Pendidikan yang dilakukan Hannah terhadap Maryam terdapat dalam surat Ali Imran berikut:

إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٰنَ رَبِّ إِنِّي نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِي بَطۡنِي مُحَرَّرٗا فَتَقَبَّلۡ مِنِّيٓۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٣٥ فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ وَإِنِّي سَمَّيۡتُهَا مَرۡيَمَ وَإِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٣٦
Artinya: (Ingatlah), ketika isteri ´Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala isteri ´Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk"[57]

Istri Imran dalam ayat ini maksudnya adalah Hannah bint Faqud. Menurut pendapat Muhammad ibn Ishaq. Hannah termasuk wanita yang mandul. Pada suatu hari Hannah melihat induk burung menyuapi makanan anaknya. Hal ini menyebabkan Hannah semakin kuat keinginannya untuk memiliki anak, lalu berdoa kepada Allah dan Allah mengabulkan doanya. Dalam masa hamilnya, ia bernadzar kepada Allah dengan ikhlas  agar anaknya kelak menjadi orang yang memakmurkan bait al-Maqdis.
Pada ayat inilah, tampak tahapan pendidikan yang isinya yaitu pendidikan pre-natal, yang berisi “tentang upaya meminta anak saleh diantaranya melalui doa dan nazar”.  Pendidikan pre-natal meyakini bahwa pembentukan anak sudah dipengaruhi sejak dalam kandungan. Kondisi emosional saat ibu mengandung juga mempengaruhi terhadap karakter anak. Pada saat ini doa dan nazar yang dilakukan Hannah terhadap Maryam tentunya memiliki peran yang signifikan, sehingga nantinya lahir menjadi generasi yang shalehah seperti Maryam.

Sedangkan mengenai pendidikan pre-natal yang dilakukan oleh Zakariya, salah satunya tercantum dalam ayat berikut:
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥۖ قَالَ رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ ٣٨ فَنَادَتۡهُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمٞ يُصَلِّي فِي ٱلۡمِحۡرَابِ أَنَّ ٱللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيَىٰ مُصَدِّقَۢا بِكَلِمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَسَيِّدٗا وَحَصُورٗا وَنَبِيّٗا مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٣٩
Artinya: Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.[58]
c.       Tahap Pendidikan Post-natal
Pada tahapan pendidikan ini, terdiri dari berbagai tahapan pendidikan yang dapat dilakukan orang tua dalam membentuk karakter anak-anaknya.
1)      Menyusui Anak Hingga Usia 2 Tahun
۞وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةُۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوۡلُودٞ لَّهُۥ بِوَلَدِهِۦۚ وَعَلَى ٱلۡوَارِثِ مِثۡلُ ذَٰلِكَۗ فَإِنۡ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٖ مِّنۡهُمَا وَتَشَاوُرٖ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَاۗ وَإِنۡ أَرَدتُّمۡ أَن تَسۡتَرۡضِعُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُمۡ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا سَلَّمۡتُم مَّآ ءَاتَيۡتُم بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ٢٣٣
Artinya: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma´ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.[59]
Tentang menyusi anak, Allah juga memberikan petunjuk kepada ibunda nabi Musa a.s. agar menyusi Musa sebelum menghanyutkannya di sungai Nil.
 إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
 Artinya: Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari para rasul.[60]
Ayat di atas memerintahkan agar Ibu Musa yang bernama Aryakha membuang Musa ke sungai, namun sebelum dibuang, Allah memerintahkan untuk menyusuinya terlebih dahulu. Dan Allah berjanji bahwa anak tersebut akan kembali kepadanya.
2)      Menanamkan Nilai-nilai Akidah
۞وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا ٣٦
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.[61]
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa tahapan pendidikan yang harus pertama kali dilakukan oleh orang tua kepada anaknya tersebut adalah pendidikan aqidah. Pendidikan aqidah harus dilaksanakan yang pertama kali sebelum pendidikan-pendidikan yang lain. Pendidikan keimanan, terutama akidah tauhid atau mempercayai keesaan Tuhan harus diutamakan karena akan hadir secara sempurna dalam jiwa anak perasaan ketuhanan yang berperan sebagai fundamen dalam berbagai aspek kehidupannya.
3)      Membiasakan Anak Melaksanakan Shalat
وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡ‍َٔلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ ١٣٢
Artinya: Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.[62]

يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧
Artinya: Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).[63]

4)      Memberi Nasehat
Dalam memberikan nasehat hendaknya dilakukan dengan penuh kasih sayang sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Lukman dalam menasehati anaknya dalam ayat berikut:
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” [64]    
5)    Memberikan Keteladanan
Dalam pendidikan karakter, sebaiknya orang tua atau pendidik dapat memberikan keteladanan sebagaimana ayat berikut:
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.[65]

Pendidikan karakter dilakukan dengan terlebih dahulu memberi contoh/ keteladanan kepada para peserta didik, karena amat besar kebencian Allah terhadap orang yang megatakan sesuatu yang tidak dilakukannya, sebagaimana ayat berikut:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan[66]


C.      Penutup
Demikian pembahasna tentang karakter manusia dalam al-qur’an yang telah dijabarkan dari pengertian karakrter, konsep manusia sampai dengan tahapan pendidikan karakter. Berdasarkan pembahasan pada makalah ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
a.    Pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan seperti agama, moral dan sosial kepada anak agar anak tumbuh dan berkembang menjadi seorang mukmin.
b.    Manusia didalam al-qur’an digambarkan sebagai makhluk yang memiliki sifat-sifat fisik seperti makhluk lainnya yang memiliki nafsu, tetapi diberi kelebihan akal, sehingga dapat membedakan antara yang baik dan buruk serta memiliki kecenderungan untuk menjadi makhuk yang mulia.
c.    Karakter manusia dalam al-qur’an dibedakan menjadi tiga yaitu mukmin, kafir, dan munafik dengan sifat-sifat masing-masing yang melekat padanya.
d.   Pendidikan karakter perlu dilakukan karena adanya kecendrungan, kebebasan dan peluang manusia dalam memilih jalan kebaikan dalam hidupnya.
e.    Tahapan pendidikan karakter dapat dilakukan sejak memilih pasangan, pendidikan karakter ketika mengandung, dan pendidikan karakter setelah anak dilahirkan. 
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, dkk. Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011.
Abdurrahman As-Sa’di, Al-Qawaid Hisan Litafsiril Qur’an. Terj. Abdurrahim, Bacalah Al-Qur’an Seolah-olah Ia diturunkan Kepadamu. (Jakarta: Mizan Publika, 2008.
Abudin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012.
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam,  Bandung: Remaja Rosdakarya: 2007.
Ahzami Samiun Jazuli, Al-Hayaatu Fil Qur’an Al-Karim, Penerj: Sari Nurlida dan Miftahul Jannah., Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, Jakarta: Gema Insani Press, 2006.
Alivermana Wiguna, Isu-Isu Kontemporer Pendidikan Islam, Yogyakarta: Deepublish, 2014.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Syamil Qur’an, 2007.
Ensiklopedi Hadits, Kitab 9 Imam. Lidwa Pusaka, 2011.
Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik dan Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media: 2011.
Ibrahin bin As-Syaikh Shalih bin Ahmad Al-Khuraishi, At-Tanbiihaat Al-Mukhtasharah Syarh Al-Wajiibaat Al-Mutahattimaat Al-Ma’rifah ‘ala kulli Muslim wa Muslimat, Terj.M. Abdul Ghaffar, Hal-Hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2007.
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al-Qur’an Tematik: Pendidikan Pembangunan Karakter dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Penerbit Aku Bisa: 2010.
Muhammad Chirzin, Nur ‘Ala Nur : 10 Tema Besar Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011.
Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Tasiru Al-Aliyul Qadir li Istishari Tafsir Ibnu Katsir, Terj. Sihabuddin, Kemudahan Dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: Gema Insani Press, 1999.
M. Darwis Hude, Emosi Dasar Manusia dalam Al-Qur’an, Jakarta: Erlangga, TT.
Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i  atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1996.
Sampo Seha, “Manusia dalam Al-Qur’an Menurut Perspektif Filsafat Manusia, Jurnal Al-Fikr, volume 14 , 3. 2010.
Sayyed Qutb, Tafsir FI Zhilalil Qur’an, Terj. As’ad Yasin, Didalam Naungan Al-Qur’an, Jakarta: Gema Insani Press, 2000.
Thomas Lickona, Character Matters, Penerjemah: J.A. Wamaungo dan J.A. Rudolf Zien. Jakarta, Bumi Aksara, 2012.
Tim Sembilan, Tafsir Maudhu’i  Al-Muntaha, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004.


[1] QS. At-Taghabun (64): 2
[2]HR. Bukhori: 1296; Muslim: 1270; Abu Daud: 4091; Tirmidzi: 2064
[3]QS. Al-Isra (17): 70
[4]Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik dan Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media: 2011), hlm.162
[5]Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter Konstruksi Teoritik dan Praktik…, hlm.162
[6]Abudin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam dan Barat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 208.
[7]Thomas Lickona, Character Matters, Penerjemah: J.A. Wamaungo dan J.A. Rudolf Zien. (Jakarta, Bumi Aksara, 2012. hlm.51
[8] Alivermana Wiguna, Isu-Isu Kontemporer Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Deepublish, 2014), hlm. 154
[9] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, Tafsir Al-Qur’an Tematik, (Jakarta: Penerbit Aku Bisa: 2010), hlm.134
[10]Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1996) hlm.275
[11] Sampo Seha, “Manusia dalam Al-Qur’an Menurut Perspektif Filsafat Manusia, “ Al-Fikr, volume 14 , 3,  (2010), hlm. 401
[12] Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an…, hlm. 275
[13] Sampo Seha, “Manusia dalam Al-Qur’an Menurut Perspektif Filsafat Manusia, “ Al-Fikr, volume 14 , 3,  (2010), hlm. 401
[14] Abdul Majid, dkk. Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 75
[15]Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agam RI, Tafsir Tematik… hlm, 32
[16] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya: 2007), hlm. 34
[17] Tim Sembilan, Tafsir Maudhu’i  Al-Muntaha, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), hlm.67
[18]  QS. At-Taghabun (64): 2
[19]  QS. Al-Anfal (8): 49
[20] QS. Al-Mukminun (23): 1-2
[21] QS. Al-Mukminun (23) : 3
[22] QS. Al-Furqan (25) : 63
[23] QS. Al-Furqan (25): 67
[24] QS. Al-Mukminun (23) : 5-6
[25] QS. Al-Furqan (25): 68
[26] QS. Al-Mukminun (23) : 8
[27] QS. Al-Mukminun (23) : 9
[28] QS. Al-furqan (25): 64
[29] QS. Al-furqan (25): 72
[30] QS. Al-furqan (25): 74
[31] Ahzami Samiun Jazuli, Al-Hayaatu Fil Qur’an Al-Karim, …hlm. 232-245
[32]Abdurrahman As-Sa’di, Al-Qawaid Hisan Litafsiril Qur’an. Terj. Abdurrahim, Bacalah Al-Qur’an Seolah-olah Ia diturunkan Kepadamu. (Jakarta: Mizan Publika, 2008), hlm. 216
[33]Ahzami Samiun Jazuli, Al-Hayaatu Fil Qur’an Al-Karim, Penerj: Sari Nurlida dan Miftahul Jannah., Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), hlm.223-224
[34]M. Darwis Hude, Emosi Dasar Manusia dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Erlangga, TT), hlm. 157
[35] Shahih Bukhari: 6982
[36] QS. Al-Baqarah (2): 6-7
[37] QS. Al-Baqarah (2): 26
[38] QS. Al-Baqarah (2): 264
[39] Ibrahin bin As-Syaikh Shalih bin Ahmad Al-Khuraishi, At-Tanbiihaat Al-Mukhtasharah Syarh Al-Wajiibaat Al-Mutahattimaat Al-Ma’rifah ‘ala kulli Muslim wa Muslimat, Terj.M. Abdul Ghaffar, Hal-Hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim, (Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2007) , hlm.215
[40] QS. Al-Munafiqun (63): 1
[41] QS. Al-Baqarah (2): 8
[42] QS. Al-Munafiqun (63): 2
[43] QS. Al-Munafiqun (63): 5
[44] QS. Al-Baqarah (2): 11-12
[45] QS. Al-Baqarah (2): 13
[46] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Tasiru Al-Aliyul Qadir li Istishari Tafsir Ibnu Katsir, Terj.  Sihabuddin, Kemudahan Dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: Gema Insani Press, 1999) hlm. 83
[47] Sayyed Qutb, Tafsir FI Zhilalil Qur’an, Terj. As’ad Yasin, Didalam Naungan Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hlm. 38
[48]   HR. Bukhori: 5360;  Muslim: 90; Tirmidzi: 2555;  Nasa’i: 4935; Ahmad: 8331.
[49] QS. Luqman (31) : 17
[50] QS. At-Tahrim (66): 6
[51] QS. As-Syams (91) : 7-10
[52] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agam RI, Tafsir Tematik… hlm, 37
[53] QS. Al-Balad (90): 10
[54] Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an… hlm.254
[55] QS. Al-Baqara (2): 221
[56] HR. Sunan Darimi: 2076
[57] QS. Ali Imron (3): 35-36
[58] QS. Ali Imran (3): 38-39
[59] QS. Al-Baqarah (2): 232
[60] QS. Al-Qashash (28): 7
[61] QS. An-Nisa (4): 36
[62] QS. Thaha: 132
[63] QS. Lukman (31): 17
[64] QS. Lukman (31): 13
[65] QS. Al-Ahzab 21
[66] QS. As-Shaf: 2-3

Related

KARYA ILMIAH 6496293171967023908

Posting Komentar

emo-but-icon

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item